Ujian Pegawai Negeri Sipil – Formalitas Belaka

Setelah sekian lama ditunggu-tunggu, akhirnya pemerintah menerima kembali Pegawai Negeri Sipil. Ini tentu membuka harapan untuk mereka yang bercita-cita menjadi pegawai negeri.
Tidak lepas dari pandangan masyarakat, bahwa pegawai negeri itu enak. Apalagi dapat pensiunan.
Demikian juga para pegawai negeri yang selama ini statusnya hanya “honorer” (dibayar, tapi bukan dengan status penuh sebagai pegawai negeri). Berkembang harapan bahwa status mereka akan “diangkat”, menjadi pegawai negeri sepenuhnya.

Maka ketika ada kekacauan dalam pengumumannya, terbukti sudah, bahwa ujian itu hanyalah formalitas belaka.

(detikinet.com)
Semarang , Kekacauan data penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Jateng ternyata disebabkan hal teknis. Panitia bagian komputerisasi alpa memasukkan salah satu poin persyaratan dalam program.

Poin yang dimaksud adalah sumber pembiayaan. Dalam PP No 48 Tahun 2005 disebutkan bahwa tenaga hororer yang dibiayai APBN/APBD diprioritaskan diterima. Kesalahan inilah yang membuat panitia merevisi pengumuman penerimaan CPNS 17 Maret lalu.

“Pemerintah daerah kan sudah punya kisi-kisi siapa saja yang bakal diterima. Ketika ada nama yang seharusnya masuk tapi ternyata tidak diterima, mereka melapor pada kami,” katanya ketika ditemui di kantornya, Jl. Imam Barjo, Semarang, Selasa (21/3/2006).

Kisi-kisi biasanya memaksudkan sela-sela dijendela, yang memungkinkan angin untuk masuk/mengalir.
Istilah ini mulai saya kenal saat akan ujian di SMP dulu. Kisi-kisi Ulangan Umum misalnya. Kisi-kisi ini akan berisikan pokok-pokok yang bakal dijadikan soal, sehingga untuk menghapal, bisa lebih terfokuskan. Tapi namanya kisi-kisi, bisa jadi berbeda, atau malah tidak keluar sama sekali.

Namun yang terjadi di Jawa Tengah menimbulkan tanda tanya tentang ujian itu sendiri.
Apakah memang benar2 menyaring orang-orang yang berkualitas, atau hanya sekedar formalitas saja ?

Kalau sudah jelas, namanya bukan kisi-kisi lagi. Tapi memang akan diterima !

Untung saja terjadi bug dalam program tersebut. Sehingga jelas bahwa ujian (setidaknya di Jawa Tengah) tersebut hanyalah formalitas saja.

Lihat saja, bagaimana dampak negatifnya, bagi mereka yang dikecewakan tidak diterima.
Lebih2 yang sudah diumumkan diterima, namun kemudian diralat. Rugi materi jelas. Rugi mental, ini yang susah diukur. Malu, kecewa, kesal dan bisa jadi depresi ataupun trauma.

Misalnya ”Rasanya amat malu dan kecewa,” kata Pak Kukuh, yang sudah mengadakan acara syukuran dengan 2 ekor kambing yang dibelikan oleh mertuanya.
Ataupun ”Seolah diangkat tinggi-tinggi lalu diempaskan ke tanah,” yang dituturkan Supartini, yang sudah mewartakan kabar baiknya ke semua saudaranya di seantero Jawa. Namun sudah tidak memiliki biaya untuk meralatnya.

Barangkali pemerintah mau berbaik hati (perlu digugat dulu kali ya !) memberikan ganti rugi.
Selain untuk kambing yang sudah dipotong, juga untuk pulsa dan perangko yang digunakan untuk meralat berita gembira yang sudah diwartakan.

Tapi, bagaimanapun, pesan saya kepada mereka yang diterima, semoga bisa membuat Indonesia lebih baik !

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: