Main Kayu

Idiom ini memaksudkan main kasar. Kadang juga memaksudkan main jegal/ganjal. Apakah karena kayu sering digunakan untuk mengganjal, ataupun bisa digunakan untuk menjegal? Entahlah. Rekan Kéré Kêmplu (yang kreatif dengan pemikiran-pemikirannya) juga pernah mempertanyakan hal ini.

Tapi yang saya alami Jumat lalu, memang sesuai dengan maksud yang kasar tadi.
Pendekatan yang selama ini dilakukan, ternyata disabotase, diseeeeeeeeerobot.

Bisnis adalah bisnis. Kompetisi memang sehat. Tapi kalau bersaing tidak sehat, bahkan menghalalkan segala cara, (termasuk menjadi bunglon ) tentu tidak sehat.

Berbisnislah dengan hati!!! Jangan hanya dengan otak!

*Ungkapan kekesalan yang masih tersisa*

2 Responses

  1. Obyekan kantor saya juga pernah diserobot kompetitor, mas. Ya itulah Indonesia…praktek kotornya terlalu banyak, makanya kita (Indonesia) sering kalah begitu masuk jalur pro😦

  2. 1) Hedi : Kalau soal serobot sih ya gak apa-apa. Apalagi kalau masih wajar2 aja. Tapi yang ini sih, terlaluan, malahan telihat munafnya …
    Tapi terima kasih mau baca unek2 ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: