Akhirnya Dapat Juga Telepon Rumah!

Setelah tertunda hampir setahun, akhirnya ada pemanggilan untuk pemasangan telepon rumah baru.
Sebenarnya banyak yang menyarankan untuk mempergunakan cell phone saja. Dan saat ini kami mempergunakan flexi untuk sementara, sehingga para relasi dan keluarga menelepon kesana.
Tapi karena kebutuhan, tetap saja fixed-phone lebih saya utamakan. Apalagi untuk internet dan kemungkinan pemasangan ADSL (kalau jadi).

Beberapa kali juga ada penawaran tidak resmi, antara 1.5 s/d 2 juta. Pak RT di ujung jalan, kena 1.5 juta. Tapi ya sayang, uang segitu mending dialokasikan yang lainlah.

Hari Rabu ditelepon, diminta untuk datang. Kesepakatan, surat panggilan akan dikirimkan oleh petugas lapangan.

Hari Kamis, tetangga sebelah sudah selesai dipasang (lho kok bisa?).

Hari Jumat, surat panggilan didapat.

Hari Senin ke Telkom Kopo (karena masuk area Selatan sana).
Karena tidak membawa metrai dan tidak tersedia, lari kesebrang, beli 2 metrai Rp. 6.000 (diuntungkan jadi 14.000😦 )
Lalu pembayaran telepon Rp. 600 ribuan. Sempat tanya, kenapa instalasi dalam rumah bayar lagi kalau sudah ada? Ternyata memang demikian “aturannya”. Karena yang memasang harus yang bersertifikasi.

Lalu memilih nomor. Dari ngobrol2, ada 2 jenis nomor yang bisa dipilih.
Yang pertama, cabutan lama (lebih dari 1 tahun). Biasanya ini sudah aman dipakai (dalam pengertian tidak ada yang salah sambung, menelepon pemilik lama)
Yang kedua yang “baru-baru” dicabut.
Lalu ternyata ada juga aturan nomor cantik. Seperti handphone saja.
Akhirnya dipilihlah nomor yang gampang diingat. Gak perlu cantik. Toh nanti juga masuk ke phonebook.

Hari Selasa datang petugas lapangan, lalu dipasang instalasi luar dan dalam rumah (laporan orang rumah). Juga diberikan satu pesawat telepon, memiliki LCD dan tampaknya sudah ada fasilitas caller-id.

Tinggal tunggu nih kapan kringnya …:)

Akhirnya ada juga telepon rumah! Terima kasih Telkom.

4 Responses

  1. Waktu ndaftar pertama gimana nih Mas, langsung ke telkomnya?

  2. Mula2 isend ngecek ke Jl. Windu. Karena rumah masuk daerah selatan, Dilempar ke Telkom Kopo (dari tengah kota, sesudah TKI). Katanya karena ada cabutan (TU yang tidak terpakai, atau yang nunggak) akhirya dijual. Itupun kalau tersedia jaringan dilokal setempat.

  3. wah .. saya baru tau kalo Telkom jual nomer ‘second’ :))

  4. 3) Endy Muhardin : Iya, maksudnya cabutan itu adalah telepon umum yang sudah tidak terpakai, lalu dari para pelanggan yang nunggak. Daripada tidak terpakai, lalu dimanfaatkan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: