Makanan Berformalin (masih) Beredar di Pasaran

Sempat terlewat, untung masih ada arsip dari milis FPK🙂
Mohon maaf, kalau basbang.

Bahan pengawet makanan formalin ternyata masih ditemukan digunakan pada sejumlah produk makanan. Hasil uji sampel makanan yang diambil Tim Penelitian dan Pengembangan Kompas dari lima pasar tradisional di lima wilayah Jakarta, dan dua hipermarket, akhir Januari 2007, kemudian menjadi buktinya.

Bahkan, persentase kandungan formalin yang ditemukan kali ini lebih besar dibandingkan dengan uji laboratorium serupa pada tahun 2006.
Tahun 2007 ini, dari 28 sampel yang diuji, 60 persennya mengandung formalin dengan kisaran kandungan formalin per sampel yang terdeteksi 2-18 miligram per kilogram. Tahun 2006, dari 60 sampel yang diuji hanya 10 persen yang mengandung formalin. Adapun kisaran kadar formalin per sampelnya 1-10 miligram per kilogram


Mengenai kondisi itu, Deputi Bidang Pengawasan dan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Dedi Fardiaz mengatakan bahwa peraturan tata niaga bahan berbahaya termasuk formalin sudah diatur. Distribusinya melalui distributor dan pengecer resmi.

Kalau banyak produsen makanan menggunakan formalin dengan mudah, disinyalir ada kebocoran. “Mungkin masih terjadi,” kata dia.

Badan POM, lanjut Dedi, masih menjadikan makanan berformalin sebagai prioritas pengawasan. Pengawasan pun menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Sumber : Kompas, 20 Feb 2007.

6 Responses

  1. Sebenarnya ini kerjaaan siapa sih? BP POM atau siapa? Kok ya masih ada makanan yang berbahaya spt ini?

    *jadiparno*

  2. Dari asal kata pengawet, maksudnya adalah baik. Artinya mengendalikan usia kadaluarsa suatu produk sehingga mempunyai masa konsumsi yang relatif lebih panjang. Masalahnya adalah pada takaran/kadar pengawet serta per-untuk-kan-nya. Pengawet makanan dengan kadar yang aman dan per-untuk-an yang tepat adalah aman dikomsumsi.
    Yang menjadi masalah adalah kadar tidak terukur (melebihi dosis) serta per-untuk-kan yang tidak tepat. Mis. pengawet untuk tekstil dipakai makanan. Karena masyarakat kita tidak terbiasa dengan takaran secara kuantitatif, pakainya perasaan. Tidak punya kemauan untuk menakar secara tepat.
    Ini yang selama ini diawasi oleh POM.

  3. nothing you can do…selama hukum masih bisa dipermainkan dan selama kemiskinan masih merajalela maka kemungkinan hal seperti ini tidak akan pernah habis…

    salam kenal
    imcw
    http://dekock.wordpress.com

  4. ya juga warung2 nasi banyak daging tongkol yang ngeper kayak
    karet he he he tapi masih laku aja!

  5. Fyuh, yang namanya bahan pengawet (=formalin, red.) selama masih mudah didapat, harganya murah+meriah….hmmm nyammi…tentunya sangat sulit dibasmi+diberantas habis dari pasaran… mungkin peraturannya nggak kuat atau kurang tegas… Yach bagaimanapun juga ujung-ujungnya urusan doit (=uang, red.)

    Salam kenal dariku,
    Jeje

  6. Waduhh…coba tolong ya..buat yang berwenang dalam kasus ini, cepat selesaikan dengan tuntas masalah ini…karena kebanyakan produk makanan yang beredar itu berformalin jadi takut deh setiap kali ngasih makanan ke anakku…jadi parno…Berformalin ga ya..?? berformalin ga ya…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: