TV Baru Atau Rekondisi?

Akhir2 ini marak penawaran TV murah. Namun hati-hati, teliti sebelum membeli. Dari berita ini, tampaknya memang sangat perlu perlindungan terhadap hak konsumen. Khususnya pengenaan sangsi yang berat bagi yang menjual TV Rekondisi sebagai TV baru (karena ini sudah termasuk hal penipuan).

Kompas 22 Maret 2006

Produk televisi itu diperdagangkan secara bebas, termasuk di pusat perbelanjaan besar.

Terbongkarnya sejumlah televisi yang diduga berkomponen bekas itu diungkapkan para teknisi dari perusahaan anggota Gabungan Elektronik (Gabel) kepada pers di Jakarta, Selasa (21/3). Dalam kaitan itu, dua merek TV dengan berbagai ukuran dijadikan alat bukti.

Menurut salah seorang teknisi, yang didukung pula oleh hasil penelitian Asosiasi Bengkel Elektronik (ABE), dua televisi baru dengan berbagai ukuran yang dibongkar tersebut diduga dirakit dengan menggunakan komponen-komponen elektronik bekas. Secara kasatmata, beberapa wartawan yang ikut menyaksikan pembongkaran itu sulit melihat keburukan produk tersebut.

Harga penjualannya memang tergolong murah dan menggiurkan. Televisi ukuran 14 inci, misalnya, ditawarkan sekitar Rp 400.000 per unit. TV ukuran 17 inci dijual mendekati Rp 600.000 dan ukuran 21 inci sekitar Rp 900.000 per unit.

Tim teknis menemukan pengaturan kabel yang sembarangan, yang dapat mengakibatkan TV itu mudah terbakar. Mereka memperlihatkan kabel-kabel yang tidak dipasang secara sempurna sehingga menyentuh perangkat komponen yang mengalirkan panas. Apabila dibiarkan selama 24 jam, TV bisa terbakar.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Carrefour Joseph V Buntaran menilai penemuan komponen bekas dalam pesawat TV yang dibeli di pusat perbelanjaan besar jelas tidak masuk akal. ”Saya rasa aneh sekali. Masak konsumen membeli TV, lalu iseng banget membongkar untuk mengetahui isi TV itu? Saya menduga ada pihak-pihak tertentu yang ingin mendiskreditkan pusat perbelanjaan besar di saat kami sedang mempromosikan barang-barang elektronik,” ujar Joseph.

Selama ini, lanjut Joseph, pihaknya selalu selektif dalam memilih pemasok barang. Apabila terbukti barang yang dipasok itu menggunakan komponen bekas, pihaknya akan mengajak pemasok itu bersama-sama membuktikan secara langsung. Tindakan ini dilakukan demi menjaga kepuasan dan melindungi konsumen dari kecurangan.

Juru bicara Electronic Marketing Club (EMC) Handoko Setiono menilai produk elektronik dengan komponen bekas merupakan tren baru. Di saat daya beli menurun dan persaingan semakin ketat, ada sekelompok orang memanfaatkan celah dengan menciptakan produk dengan harga jual murah.

Catatan : Dalam berita tidak ada informasi di Toko mana TV tersebut ditemukan !

Iseng membongkar mungkin hanya beberapa orang saja yang melakukan. Tetapi tetap saja pembeli berhak tahu (memiliki informasi untuk menentukan pilihan) bahwa itu (jika) memang re-kondisi, bukan benar2 baru 100%.

Pihak penjual (tanpa bermaksud menyudutkan Carrefour), seharusnya memeriksa dahulu sebelum menjual. Tidak asal jual karena harga murah.
Lebih baik jika semua pihak bertemu pada 1 meja, melakukan pengecekan (acak) bersama-sama, sehingga lebih adil.

Lalu, sebaiknya hasil pengujian tadi ditindaklanjuti, dengan menelusuri pemasok TV itu, tidak hanya berdasarkan garansi semata-mata.

Memangnya enak, kalau beli barang baru, taunya rekondisi ?

Update Kompas – 23/3/2006 :

Dari pengamatan Kompas di pusat perdagangan elektronik di kawasan Glodok dan pasar loak di Jatinegara, Jakarta, Rabu (22/3), kegiatan memilih ukuran maupun tawar-menawar TV rekondisi dilakukan secara terang-terangan.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Ardiansyah Parman mengatakan, secara prinsip penjualan barang bekas tidak dilarang. Namun, penjualan barang bekas tanpa memberitahukan informasi yang benar dan lengkap kepada konsumen dapat melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Dalam Pasal 8 undang-undang tersebut disebutkan, pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat, atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.

10 Responses

  1. masyarakat kita yg wawasannya masih heterogen gini memang jadi gampang buat bulan-bulanan pedagang ya mas😦

  2. daripada beli TV baru..mending beli TV lama yang baru😀

    daku punya dua TV.. oldies and modern . Tanpa antena2an..TV oldies jauh lebih joss gambarnya . Apa memang begini trennya ya.. kalau dulu orang berlomba2 memberikan kualitas..sekarang berlomba2 memberikan harga murah

    duh gusti gusti..

  3. weh berarti kita harus bawa2 orang yg ahli kalo mo beli barang yg ketutup gitu yah? (motor harus bawah montir kendaraan, elektronik harus bawa ahli elektronik) susye-nya di negeri ini😛

  4. Betul memang ada TV set refurbish tapi dijual sebagai barang baru, barang diambil dari pusat perbelanjaan ternama, memakai tabung bekas monitor komputer dengan modifikasi di komponen chasis TVnya, informasi lengkap merk dan dari pusat perbelanjaan mana tidak di cantumkan biar pihak berwenang yang sudah tahu yang akan mempublikasikannya, gimana nih lembaga konsumen ?
    Untuk pihak pusat perbelanjaan, jangan membela diri jika memang ada masalah atau akan dipublikasikan lengkap bersama bukti dan fotonya !!!

  5. Iya nih sekarang banyak barang2 elektronik murah, tapi kwalitasnya perlu dipertanyakan ?

  6. Cara ngebedain antara tv refurbish dgn tv baru gimana caranya ya???
    ada yang tau nggak mohon infonya,…..

  7. kalo brg electronik kita meledak dan menyebabkan kebakaran rumah, terus kita harus minta perlindungan kemana selain lapor polisi?soalnya kalau ke penjual tidak mau ngaku walaupun ada bukti dan saksi…..

  8. bingung cara pilih kualitas barang electronik yang berkualitas apalagi skrang lagi rame2’y ganyang GO GREEN !!!

    salah2 malah jadi sampah

  9. saya pernah beli tv rekondisi untuk main game, nggak sampai dua bulan tv rusak, 10 jam tukang servis utak atik, tapi akhirnya nyerah. nggak bisa memperbaiki karena menurutnya rangkain komponennya membingungkan.

  10. uang sesuai kwalitas barang yng dibeli .kalau mau yang bagus beli yang mahal.kaalu gak punya uang beli yng murah aja tapi gak usah banyak komentar udah tau barang murah jangan disamain dengan barang yang mahal dong……………………………kan gak semua orang bisa beli yang mahal konsumen udah bisa mikir sendiri mana yng mau dipilh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: